Social Icons

Pages

Sabtu, 29 Desember 2012

Jika Saya Presiden........


Menjadi seorang presiden sepertinya merupakan suatu impian masa kecil setiap orang, dan mungkin saja masih menjadi impian “terpendam” yang tetap terjaga hingga menginjak masa-masa remaja. Kewibawaan seorang presiden membuat sebagian orang menginginkan jabatan tersebut, tidak terkecuali saya. Selain kewibawaan, tantangan besar yang selalu dihadapi seorang presiden menjadi daya tarik sendiri buat saya. Dan jika saja suatu saat saya benar-benar menjadi seorang presiden, apa yang akan saya lakukan untuk negara ini ? Baiklah, saya akan menjabarkan apa-apa saja kebijakan yang saya ambil untuk negara tercinta ini. Sedikit bermimpi sih.....

       Jika saya pemimpin negara Indonesia ini hal pertama yang akan saya lakukan mengembalikan eksistensi UUD 45 dan Pancasila sebagai “kitab suci” negara Indonesia yang wajib untuk dilaksanakan. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat banyaknya undang-undang dan peraturan-peraturan serta kebijakan-kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah yang bertentangan dengan UUD 45 dan Pancasila. Masyarakat jugalah yang dirugikan disaat pejabat negara bergelimangan harta atas kebijakan yang mereka buat.

Selasa, 06 November 2012

Korupsi dan Indonesia, Musuh atau Sahabat ?


Korupsi seakan menjadi tradisi di Tanah Air ini, inilah yang kita temukan di kehidupan kita sehari-hari tanpa memandang status sosial, usia, dan ekonomi. Seakan menutup mata, sebagian besar dari masyarakat Indonesia menganggap korupsi bukanlah merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan.
Benar, kebiasaan yang telah diwariskan turun temurun dari nenek moyang kita yang dianggap sebagai “Uang Kopi” untuk melancarkan sebuah transaksi. Dan inilah yang perlu kita sadari, karena ini merupakan akar dari sebuah KORUPSI.
Sebelum membahas lebih dalam tentang korupsi, mari kita simak sebaris makna dari korupsi yang saya ambil dari wikipedia.

Arsitektur Bangunan di Provinsi Riau Dulu dan Sekarang

 


  
A.                A. Perkembangan arsitektur bangunan di riau
Riau memiliki potensi besar di bidang arsitektur. Sejak zaman dahulu gayaarsitektur bangunan di Riau kuat dipengaruhi oleh corak Hindu-Budha. Corak Hindu-Budda ini terdapat pada bangunan bersejarah yang berupa candi, yang dikenal dengannama Candi Muara Takus. Perkembangan selanjutnya, dengan adanya kerajaan Melayuseperti Siak yang bangunannya dipengaruhi oleh arsitektur Timur Tengah dan Eropa.Contohnya adalah Istana Siak. Gaya arsitektur di Bumi Lancang Kuning ini lebih berwarna lagi dengan adanya kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di seluruh aliranSungai yang ada di daratan Riau (Sungai Rokan, Siak, Kuantan dan Indragiri).Sesuai dengan perkembangan teknologi kini, bangunan yang ada di Riau punberkembang. Gaya, arsitektur lama yang sarat dengan nilai-nilai budaya berpadu dengancanggihnya teknologi sehingga menghasilkan bangunan-bangunan dengan arsitekturmodern serta berdiri dengan megah. Beberapa bangunan yang megah itu antara lainadalah Masjid Agung Annur Riau dan Pustaka Wilayah Riau, Soeman HS.

B.                 B.Arsitektur Bangunan Bersejarah di Riau
1.                  1. Rumah adat daerah riau
Secara umum ada 5 jenis rumah adat Melayu Riau:
·      Balai Salaso Jatuh
·      Rumah Adar Salas Jatuh Kembar
·      Rumah Melayu Atap Limas
·      Rumah Melayu Lipat Kajang, dan
·      Rumah melayu Atap Lontik
Bentuk rumah tradisional Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri di atas tiang dengan bangunan persegi panjang. Dari beberapa bentuk rumah, semuanya hampir sama. Kecuali rumah lontik yang mendapat pengaruh Minang.
Balai salaso jatuh adalah bangunan seperti rumah adat tapi fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah atau rapat secara adat. Sesuai dengan fungsinya bangunan ini mempunyai macam-macam nama antara lain: Balairung Sari, Balai Penibatan, Balai Kerapatan dan lain-lain. Bangunan tersebu kini tidak ada lagi, di desa-desa tempat musyawarah dilakukan di rumah penghulu, sedangkan yang menyangkut keagamaan dilakukan di masjid.

Antara RamaWijaya dan Dahlan Iskan

               

Dongeng Ramayana pada dasarnya menceritakan tentang kisah percintaan antara Raden Rama Wijaya dengan seorang puteri raja yang bernama Dewi Shinta. Dikisahkan sebuah negeri bernama Mantili, tinggallah seorang puteri cantik bernama Dewi Shinta. Sang raja bernama Prabu Janaka suatu hari mengadakan sayembara untuk mendapatkan pangeran bagi sang putri
Sayembara pun jatuh kepada Putera Mahkota Kerajaan Ayodya bernama Raden Rama Wijaya. Rama Wijaya mengalahkan pesaing utamanya yakni Raja Alengkadiraja yaitu Prabu Rahwana yang sedang kepada Dewi Shinta. Sebenarnya Rahwana menginginkan Dewi Shinta karena dianggap sebagai titisan Dewi Widowati.
Dikisahkan dalam sebuah perjalanan Rama dan Shinta serta Lesmana adiknya, mereka melewati hutan belantara yang dinamakan hutan Dandaka. Ternyata Rahwana mengintai mereka untuk menculik Shinta dan membawanya ke istana untuk dijadikan istri. Rahwana mengubah hambanya bernama Marica menjadi seekor kijang kencana untuk memangcing Rama pergi memburu kijang tersebut.
Disaat yang sama, Lesmana pun menyusul karena Rama yang tak kunjung kembali. Alhasil Shinta menunggu di tengah hutan Dandaka. Rahwana pun dengan mudah menculik Shinta dan membawanya ke Istana. Sebelumnya, Rahwana pun menghadapi seekor burung garuda bernama Jatayu yang merupakan teman baik Jatayu.

Selasa, 09 Oktober 2012

Balimau Kasai, Kegiatan Adat Khas Kabupaten Kampar


Upacara Balimau Kasai
Kabupaten Kampar - Riau - Indonesia
A. Selayang  Pandang
Balimau Kasai adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Kampar di Propinsi Riau untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Acara ini biasanya dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas. Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang dipakai saat berkeramas. Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut ini (kasai) dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala, sebelum memasuki bulan puasa.
Sebenarnya upacara bersih diri atau mandi menjelang masuk bulan Ramadhan tidak hanya dimiliki masyarakat Kampar saja. Kalau di Kampar upacara ini sering dikenal dengan nama Balimau Kasai, maka di Kota Pelalawan lebih dikenal dengan nama Balimau Kasai Potang Mamogang. Di Sumatra Barat juga dikenal istilah yang hampir mirip, yakni Mandi Balimau. Khusus untuk Kota Pelalawan, tambahan kata potang mamogong mempunyai arti menjelang petang karena menunjuk waktu pelaksanaan acara tersebut.

Jumat, 04 Mei 2012

Bagimu Pemuda Malas, Nan Enggan Bekerja


Pada sebuah kesempatan, Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah ditanya, “Ada seorang pemuda, ia mampu bekerja tapi enggan bekerja. Apa pendapat anda?”
Beliau menjawab:
Pendapatku sama dengan pendapat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
أرى الشاب فيعجبني فأسأل عن عمله فيقولون لا يعمل فيسقط من عيني
Aku melihat seorang pemuda, ia membuatku kagum. Lalu aku bertanya kepada orang-orang mengenai pekerjaannya. Mereka mengatakan bahwa ia tidak bekerja. Seketika itu pemuda tersebut jatuh martabatnya di mataku
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إن أطيب كسب الرجل من يده
Pendapatan yang terbaik dari seseorang adalah hasil jerih payah tangannya
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki yang kulit tangannya kasar, beliau bersabda,
هذه يد يحبها الله ورسوله
Tangan ini dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya
Beliau juga bersabda,
إذا قامت القيامة وفي يد أحدكم فسيلة فليغرسها
Jika qiamat telah datang, dan ketika itu kalian memiliki cangkokan tanaman, tanamlah!
Beliau juga bersabda,
كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يعول
Seseorang itu sudah cukup dikatakan sebagai pendosa jika ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya

Antara Sulaiman dan Qarun

Manusia sangat menyukai kesenangan dunia, baik berupa kesehatan, harta, keturunan, ataupun kedudukan. Mereka sangat membanggakannya dan menjadikannya sebagai parameter kesuksesan hidup. Oleh sebab itu mereka sangat bersedih dan bahkan berputus asa tatkala kesenangan itu lenyap darinya. Mereka tidak bisa menjadi sosok hamba yang bersabar ketika mendapatkan musibah yang ditakdirkan-Nya.
Sebaliknya, tatkala berhasil mendapatkan kembali nikmat dunia yang sebelumnya luput darinya, mereka merasa seolah-olah dirinyalah orang yang paling berhak menikmatinya. Mereka juga meremehkan dan melecehkan orang lain yang ada di sekitarnya karena tidak memiliki ‘kemuliaan’ seperti yang didapatkannya. Mereka pun ternyata tidak bisa menjadi sosok hamba yang pandai bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat yang telah dilimpahkan oleh-Nya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan jika Kami berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) Kami cabut kembali, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih. Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata; ‘Telah hilang bencana itu dariku.’ Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga, kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 9-11).